Feb 16, 2009
Masehi VS Hijriyah
Sistem penanggalan sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Berbagai metode telah diterapkan untuk mendapatkan perhitungan yang tepat. Dari berbagai metode yang ada, hanya terdapat 2 metode yang bertahan (banyak digunakan) sampai saat ini yaitu penanggalan masehi dan hijriyah. Dari dua metode penanggalan tersebut, penanggalan masehi lebih umum digunakan.
Masehi
Sistem penanggalan masehi adalah sistem penanggalan yang dipakai secara internasinal, dan oleh kalangan gereja dinamakan Anno Domini (AD) terhitung sejak kelahiran Yesus. Semula biarawan Katolik, Dionisius Exoguus pada tahun 527 M ditugaskan pimpinan Gereja untuk membuat perhitungan tahun dengan dasar tahun kelahiran Yesus. Oleh karena itu, masa sebelum kelahiran Yesus dinamakan masa sebelum masehi atau dalam bahasa Inggris Before Christ (BC). Semua peristiwa dunia sebelumnya dihitung mundur alias minus. dengan sebuah gagasan teologis Yesus sebagai penggenapan dan pusat sejarah dunia. Tahun kelahiran Yesus dihitung sebagai tahun pertama pada penanggalan masehi atau awal perjanjian baru. Sistem penanggalan yang berdasarkan sistem matahari ini sebelum menjadi sempurna seperti yang kita kenal sekarang mengalami sejarah yang cukup panjang sejak zaman Romawi, jauh sebelum pemerintahan Julius Caesar.
Julius Caesar juga mampunyai andil besar dalam penyusunan sistem penangalan ini, karena semula penanggalan masehi hanya mempunyai 10 bulan saja yaitu :
1. Martius (Maret)
2. Aprilis ( April )
3. Maius ( Mei)
4. Junius ( Juni)
5. Quintilis ( Juli)
6. Sextilis (Agustus)
7. September (September)
8. October (oktober)
9. November (Nopember)
10.December (Desember)
Seperti halnya dengan pemberian nama hari, pemberian nama bulan pada sistem penanggalan yang kemudian menjadi penanggalan Masehi ini terdapat kaitan dengan para dewa bangsa Romawi. Contoh : Bulan Martius mengambil nama Dewa Mars, Bulan Maius mengambil nama Dewa Maia dan bulan Junius mengambil nama dewa Juno.
Sedangkan nama-nama Quintrilis, Sextrilis, September, October, November & December adalah nama yang diberikan berdasarkan angka urutan susunan bulan. Quntrilis berarti bulan kelima, Sextilis bulan keenam, september bulan ketujuh, October bulan kedelapan dan December bulan kesepuluh.
Adapun nama bulan Aprilis diambil dari kata Aperiri, sebutan utk cuaca yang nyaman dalam musim semi, berdasarkan nama-nama tersebut diatas nampak bahwa pada zaman dahulu permulaan penanggalan jatuh pada bulan Maret. Hal ini erat kaitannya dengan musim dan pengaruhnya kepada tata kehidupan masyarakat di Eropa. Bulan Maret (tepatnya 21 Maret) adalah permulaan musim semi. Awal musim semi disambut dengan perayaan sukacita karena dipandang sebagai permulaan kehidupan yang baru, setelah selama 3 bulan mengalami musim dingin. Jadi kedatangan musim semi ini dirayakan sebagai perayaan tahun baru setiap tahun.
Penanggalan yang hanya terdiri dari 10 bulan tersebut kemudian berkembang menjadi 12 bulan, berarti ada tambahan 2 bulan, yaitu bulan Januarius dan Februarius. Januarius adalah nama yang berasal dari nama dewa Janus, dewa ini digambarkan memiliki dua wajah yang menghadap kedepan dan kebelakang, hingga dapat memandang masa lalu dan masa depan, sebab itu Januarius ditetapkan sebagai bulan pertama.
Februarius diambil dari upacara Februa, yaitu upacara semacam bersih desa atau ruwatan untuk menyambut kedatangan musim semi. Dengan ini februarius menjadi bulan yang kedua, sebelum musim semi datang pada bulan Maret.
Demikianlah, maka bulan2 yg terdahulu letaknya di dalam tarikh baru menjadi tergeser dua bulan , dan susunannya menjadi : Januarius, FEbruarius, MArtius, Aprilis, Maius, Junius, Quintrilis, Sextilis, September, October, November dan december.
Pada akhirnya, nama Quintrilis sampai December menjadi tanpa arti, karena posisi dalam urutan kedudukannya yang baru didalam system penanggalan, tidak lagi sesuai dengan arti yang sebenarnya, sistem yang dipakai waktu itu belum merupakan sistem matahari murni, masih banyak kesalahan atau ketidak-cocokan yang makin jauh melesetnya.
Pada saat Julius Caesar berkuasa, kemelesetan telah mencapai 3 bulan dari patokan yang seharusnya. Dalam kunjungan ke Mesir tahun 47 SM, Julius Caesar sempat menerima anjuran dari para ahli perbintangan Mesir untuk perpanjang tahun 46 SM menjadi 445 hari dengan menambah 23 hari pada bulan Februari dan menambah 67 hari antara bulan November dan December.
Sekembali ke Roma Julis Caesar mengeluarkan maklumat penting dan berpengaruh luas hinga kini yakni penggunaan sistem matahari dalam sistem penanggalan seperti yang dipelajarinya dari Mesir.
adapun isi keputusannya adalah :
Pertama, setahun berumur 365 hari. karena bumi mengelilingi matahari selama 365,25 hr, sebenarnya terdapat kelebihan 0,25×24jam = 6jam setiap tahun.
kedua setiap 4 tahun sekali, umur tahun tidak 365 hari, tetapi 366 hari, disebut tahun kabisat. Tahun kabisat ini sebagai penampungan kelebihan 6 jam setiap tahun yg dlm 4 thn menjadi 4×6=24 jam atau 1 hr.
penampungan sehari tiap tahun kabisat ini dimasukkan dalam bulan Februari, yang pada tahun biasa berumur 29 hari, pada tahun kabisat menjadi 30 hari.
sebagai peringatan atas jasa Julius Caesar dalam melakukan penyempurnaan system penanggalan itu, maka sistem penanggalan ini disebut sistem penanggalan JULIAN. dengan mengganti nama bulan ke-5 yang semula Quintilis menjadi Julio, yang kita kenal sebagai bulan Juli.
untuk mengabdikan namanya, Kisar Augustus, yang memerintah setelah Julius Caesar, merubah nama keenam Sextilis menjadi Augustus. Perubahan itu diikuti dengan menambah umur bulan Augustus menjadi 31 hari, karena sebelumnya bulan Sextilis umurnya 30 hari saja, penambahan satu hari itu diambilkan dari bulan Februari, karena itulah bulan Februari umurnya hanya 29 hari atau 28 hari pada tahun kabisat.
sementara waktu berjalan terus dan sistem penanggalan Julian yang sudah tampak sempurna itu, lama kelamaan memperlihatkan kemelesetan juga. Apabila pada zaman Julius Caesar jatuhnya musim semi mundur hampir 3 bulan, kini musim semi justru dirasakan maju beberapa hari dari patokan.
akhirnya kemelesetan itu dapat diketahui penyebabnya, kala revolusi bumi yang semula dianggap 365.25 hari, ternyata tepatnya 365 hari, 5 jam, 56 menit kurang beberapa detik, jadi ada kelebihan menghitung 4 menit setiap tahun yang makin lama makin banyak jumlahnya.
Atas kemelesetan itu, Paus Gregious XIII pimpinan Gereja Katolik di Roma pada tahun 1582 melakukan koreksi dan mengeluarkan sebuah keputusan bulat :
Pertama, Angka tahun pada abad pergantian, yakni angka tahun yang diakhiri 2 nol, yang tidak habis dibagi 400, misal 1700, 1800 dsb, bukan lagi sebagai tahun kabisat (catatan : jadi tahun 2000 yang habis dibagi 400 adalah tahun kabisat).
Kedua untuk mengatasi keadaan darurat pada tahun 1582 itu diadakan pengurangan sebanyak 10 hari, jatuh pada bulan October, pada bulan Oktober 1582 itu, setelah tanggal 4 Oktober langsung ke tanggal 14 Oktober pada tahun 1582 itu.
Ketiga sebagai pembaharu terakhir Paus Gregious XIII menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru. Berarti perhitungan pendeta Katolik, Dionisius Exoguus tergusur. Tahun baru bukan lagi 25 Maret seiring dengan pengertian Nabi Isa. as (Yesus) lahir pada tanggal 25 dan permulaan musim semi pada bulan Maret.
Dengan keputusan tersebut diatas, khususnya yang menyangkut tahun kabisat, koreksi hanya akan terjadi setiap 3323 tahun, karena dalam jangka tahun 3323 tahun itu kekurangan beberapa detik tiap tahun akan terkumpul menjadi satu hari, berarti bila tidak ada koreksi, tiap 3323 thn jatuhnya musim semi maju satu hari dari patokan, dalam perkembangannya, sistem penanggalan masehi dapat diterima oleh seluruh dunia untuk perhitungan dan pen-dokumentasi-an waktu secara internasional.
Hijriah
Pada tanggal 6 bulan Agustus 610M Rosulullah Muhammad SAW dilantik menjadi Rosul. Kemudian pada tanggal 28 Juni 623 M beliau Hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah. Tepat pada tanggal 9 Juni 633 Masehi Rosulullah wafat.
Setelah Rosulullah wafat kemudian kepala Negara diganti oleh sahabat Abu Bakar Shiddiq r.a. selama 2 tahun dan pada tahun 635 M setelah sahabat Abubakar wafat. Selanjutnya kepala Negara diganti oleh sahabat Umar bin Khottob selama 10 tahun.
Jadi Rosulullah SAW menjabat sebagai Rosul selama 13 tahun kemudian menjadi Rosul dan Kepala Negara di Madinah selama 10 tahun, Sahabat Abu Bakar Shiddiq r.a. menjadi kepala Negara di Madinah selama 2 tahun, sahabat Umar Bin Khothob r.a. menjadi kepala Negara di Madinah selama 10 tahun.
Pada waktu sahabat Umar bin Khottob menjadi kepala Negara di Madinah, banyak negara-negara yang takluk kepada Madinah seperti :
- Negara Mesir
- Negara Irak atau Mesopotamia
- Negara Yaman
- Negara Bahrain
- Negara Persi atau Iran
- Negara Palestina
- Negara Syiria
- Negara Turki
Sebelum Negara-negara seperti Syiria, Turki, Mesir dan Palestina masuk wilayah Madinah, Negara-negara tersebut masuk wilayah Negara Romawi yang Kristen.
Negara Negara seperti Kuffah, Baghdad , Basroh di Irak masuk wilayah Negara Persi.
Setelah Umar bin Khottob r.a. menjadi kepala Negara Madinah selama 10 tahun beberapa negara tersebut di atas dikuasai, dan pusat pemerintahannya berada di Madinatul Munawwaroh. Selama sahabat Umar menjadi kepala negara, beliau mengangkat beberapa gubernur antara lain :
- Muawiyyah diangkat menjadi Gubernur di Syiria, termasuk wilayahnya adalah Yordania.
- Amru bin Ash diangkat menjadi Gubernur Mesir.
- Musa Al As’ari diangkat menjadi Gubernur Kuffah.
- Mu’adz bin Jabal diangkat menjadi Gubernur Yaman.
- Abu Hurairah diangkat menjadi Gubernur Bahrain.
Ibu kota negara sebagai pusat kendali pemerintahan dibawah seorang kepala negara yang disebut Amirul Mukminin adalah di Madinah dibawah pimpinan Umar Bin Khothob.
Ketika Sayyidina Umar bin khothob menjabat sebagai kepala negara mencapai tahun ke 5 beliau mendapat surat dari sahabat Musa Al As’ari gubernur Kuffah, adapun isi suratnya adalah sebagai berikut :
“KATABA MUSA AL AS’ARI ILA UMAR IBNUL KHOTHOB. INNAHU TAKTIINA MINKA KUTUBUN LAISA LAHA TAARIIKH.”
Artinya: Telah menulis surat Gubernur Musa Al As’ari kepada Kepala Negara Umar bin Khothob. Sesungguhnya telah sampai kepadaku dari kamu beberapa surat-surat tetapi surat-surat itu tidak ada tanggalnya.
Kemudian Kholifah Umar bin Khothob mengumpulkan para tokoh-tokoh dan sahabat-sahabat yang ada di Madinah.
“FAJAMAA’A UMAR AN NAASI LIL MUSYAAWAROTI, Maka mengumpulkan Umar bin Khothob untuk mengadakan musyawarah.”
Didalam musyawarah itu membicarakan rencana akan membuat Tarikh atau sistem penanggalan Islam. Dan didalam musyawarah itu muncul bermacam-macam perbedaan pendapat. Diantara pendapat tersebut adalah sebagai berikut:
- Ada yang berpendapat sebaiknya sistem penanggalan Islam dimulai dari tahun lahirnya Nabi Muhammad SAW.
- Ada yang berpendapat sebaiknya sistem penanggalan Islam dimulai dari Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rosulullah.
- Ada yang berpendapat sebaiknya sistem penanggalan Islam dimulai dari Rosulullah di Isro Mi’roj kan.
Akhirnya musyawarah yang dipimpin oleh Amirul Mukminin Umar Bin Khothob tersebut sepakat memilih awal yang dijadikan sistem penanggalan Islam adalah dimulai dari tahun Hijriyah nya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Kemudian sistem penanggalan Islam tersebut dinamakan Tahun Hijriyah.
Jadi adanya ditetapkan tahun Hijriyah itu dimulai dari Sayyidina Umar bin Khothob menjabat Kepala Negara setelah 5 tahun. Sebelum itu, belum ada tahun Hijriyah baikpun jaman Rosulullah hidup maupun jaman sahabat. Dan tahun Hijriyah mulai diberlakukan bertepatan dengan tahun 640M. Setelah tahun Hijriyah berjalan 5 tahun kemudian sahabat Umar Bin Khothob wafat. (BoyoCreative)
Dari berbagai sumber











































